Translate To

Kamis, 11 April 2013

Laporan Manajemen Ternak Perah


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tiga alasan mengapa ternak ruminansia diperuntukkan sebagai penghasil susu adalah 1. Mereka dapat merubah rumput dan hijauan yang tidak kita konsumsi sebagai sumber pakan ke dalam susu, nutrisi yang dapat kita konsumsi. Hal ini dapat terjadi berkat adanya fermentasi mikroba dalam rumennya. 2. Mereka memiliki pembuluh puting yang dapat memfasilitasi pengeluaran susu. 3. Mereka memproduksi susu dalam jumlah besar secara efisien. Optimalisasi dan kelangsungan produksi susu dapat berhasil dengan baik apabila dilakukan penerapan tatalaksana yang tepat mulai saat sapi lahir hingga berproduksi.
Laporan hasil penelitian Pamungkas dkk. (1994) menyatakan. bahwa pada umumnya sapi dara dipelihara oleh petemak bermodal kecil (skala usaha pemeliharaan kecil) dan di dalam pemcliharaannya tanpa disertai dengan pemberian pakan konsentrat. Hal ini tentunya selama periode,pertumbuhan ternak dapat mengalami kekurangan gizi. sehinggadapat menyebabkan pertumbuhan terhambat dan juga terlambatnya umur pubertas. Beberapa hasil penelitian telah membuktikan, bahwa pemberian pakandengan kecukupan energi dan protein menyebabkan temak cepat tumbuh, umur kawin dan beranak pertama akan lebih pendek (Vandeplassche, 1982).
Berkaitan dengan uraian tersebut. maka perlu diupayakan perbaikan tatalaksana pakan disertai dengan kajian ekonomi pemeliharaan sapi perah dara di tingkat usaha petemakan rakyat.




Tujuan
            Tujuan dari praktikum ini adalah memberi pengetahuan kepada praktikan dalam melakukan manajemen peternakan sapi perah
1.3 Manfaat
            Manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah praktikan dapat memperoleh ilmu manajemen peternakan sapi perah
MATERI DAN METODA
Waktu dan tempat
            Praktikum Manajemen Ternak Perah ini dilaksanakan di fapet farm Universitas Jambi, yang dilaksanakan selama satu minggu, dimulai pada tanggal 16 mei s.d 22 mei 2011.

Materi
            Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air, sapu lidi, sikat, sabit, ternak sapi, cangkul, dan pakan yang diberikan pada ternak sapi tersebut.

Metoda
Pemberihan kandang ternak sapi dilakukan dengan membuang feces terlebih dahulu, dan dipindahkan ke tempat pengumpulan feces, kemudian kandang dibersihkan dengan menggunakan air dan sapu lidi, kemudian sisa feces yang terbawa ke selokan di angkat dengan cangkul dan dipindahkan ke samping kandang.
1.      Pemandian ternak sapi
Pemandian ternak sapi dilakukan setelah kandang dibersihkan, sapidimandikan dengan menyiram sapi terlebih dahulu dengan air bersih, lalu badan, kaki, dan bagian kotor lainnya dibersihkan dengan menggunakan sikat, dan sapi disiram kembali dengan air bersih.
2.      Pemberian pakan hijauan
Hijauan diberikan sebanyak 2 kali sehari, yakni pada pagi hari dan sore hari, pakan yang diberikan adalah berbentuk hijauan segar yang telah dipotong kecil-kecil untuk mempermudah sapi mengambil pakan tersebut.
3.      Pemberian pakan konsentrat
Pemberian pakan konsentrat dilakukan sebanyak 3 kali sehari, yaitu pada pagi hari, siang dan sore hari. Konsentrat yang diberikan adalah dedak dan bungkil inti sawit, pakan konsentrat ini diberikan apada ternak yang mendapat perlakuan


TINJAUAN PUSTAKA
Sapi perah
Menurut Yusmichad Yusdja (2005), usaha sapi perah telah berkembang sejak tahun 1960 ditandai dengan pembangunan usaha-usaha swasta dalam peternakan sapi perah disekitar Sumatra Utara, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tahun 1977 Indonesia mulai mengembangkan agribisnis sapi perah rakyat yang ditandai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Mentri. SKB ini merumuskan kebijakan dan program pengembangan agribisnis sapi perah di Indonesia. Industri peternakan sapi perah di Indonesia mempunyai struktur yang relatif lengkap yakni peternak, pabrik pakan dan pabrik pengolahan susu yang relatif maju dan kapasitas yang cukup tinggi serta tersedia kelembagaan peternak yakni Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI). Kelengkapan ini dimungkinkan sebagai akibat Penanam Modal Asing (PMA) dan kebijakan perkoprasian. Struktur usaha ternak sapi perah terdiri dari usaha skala besar (>100 ekor), usaha skala menengah (30-100 ekor), usaha skala kecil (10-30 ekor) dan usaha ternak rakyat (1-9 ekor). Usaha ternak rakyat pada umumnya merupakan anggota koperasi.

Menurut Mubyarto (1989), berdasarkan pola pemeliharaan usaha ternak di Indonesia diklasifikasikam menjadi tiga kelompok yaitu peternakan rakyat, peternakan semi komersil dan peternakan komersil. Peternakan rakyat melakukan budidayanya secara tradisional. Pemeliharan cara ini dilakukan setiap hari oleh anggota keluarga peternak dimana keterampilan peternak masih sederhana dan menggunakan bibit lokal dalam jumlah dan mutu terbatas. Tujuan utama pemeliharaan sebagai ternak kerja. Peternakan semi komersil ditandai dengan keterampilan peternak dapat dikatakan cukup, menggunakan bibit unggul, obat-obatan dan penggunaan makanan penguat cenderung meningkat. Tujuan usaha peternak semi komersil untuk menambah pendapatan keluarga dan konsumsi sendiri. Peternakan komersil dijalankan oleh peternak yang mempunyai kemampuan dalam segi modal, sarana produksi dan teknologi yang cukup modern. Tenaga kerja dibayar dan makanan ternak dibeli dari luar dalam jumlah yang besar.

Menurut Sudono (1985) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi susu sapi perah dipengaruhi oleh keturunan sebesar 30 persen dan lingkungan sebesar 70 persen. Faktor-faktor tersebut antara lain yaitu, 1). Bangsa dan rumpun sapi, 2). Lama bunting (gestation period), 3). Masa laktasi, 4). Estrus, 5). Umur, 7). Interval beranak (calving interval), 8). Masa kering kandang, 9). Frekuensi pemerahan, 10). Besarnya sapi, dan 11). Pakan dan tatalaksana pemeliharaan.Produksi susu sapi perah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor produksi.

Bila ditinjau secatra ekonomis, khususnya usahatani, maka faktor-faktor tersebut
meliputi : alam, modal, tenaga kerja dan manajemen (Soeharjo dan patong, 1973).

Peternakan sapi perah di Indonesia umumnya merupakan usaha keluarga di pedesaan dalam skala kecil, sedangkan usaha dalam skala besar masih sangat terbatas dan umumnya merupakan usaha sapi perah yang baru tumbuh (Erwidodo, 1993). 



Pemberian pakan
Konsentrat merupakan pakan untuk merangsang pertumbuhan fili-fili rumen (Gillespie, 1998).

Suryahadi dkk, (1997) yang menyatakan bahwa konsentrat diberikan sebelum pemerahan dilakukan, tujuannya agar sapi menjadi tenang sewaktu dilakukan pemerahan. Pemberian konsentrat dilakukan sebelum hijauan diberikan dengan tujuan untuk merangsang kerja mikroba dalam rumen. Konsentrat yang diberikan banyak mengandung energi.

Menurut Anharoni et al., (2006), Metabolisme Energi (ME) yang dimakan diestimasikan sebagai jumlah produksi panas, energi dalam susu, dan keseimbangan energi dalam tubuh.

Sistem pemberian hijauan tersebutakan meningkatkan kualitas proporsi antara produk asam lemak konjugasi dan asam lemak omega 3 serta meningkatkan kandungan lemak pada daging (Valvo et al., 2005).


HASIL DAN PEMBAHASAN
Menurut Mubyarto (1989), berdasarkan pola pemeliharaan usaha ternak di Indonesia diklasifikasikam menjadi tiga kelompok yaitu peternakan rakyat, peternakan semi komersil dan peternakan komersil. Peternakan rakyat melakukan budidayanya secara tradisional. Pemeliharan cara ini dilakukan setiap hari oleh anggota keluarga peternak dimana keterampilan peternak masih sederhana dan menggunakan bibit lokal dalam jumlah dan mutu terbatas. Tujuan utama pemeliharaan sebagai ternak kerja. Peternakan semi komersil ditandai dengan keterampilan peternak dapat dikatakan cukup, menggunakan bibit unggul, obat-obatan dan penggunaan makanan penguat cenderung meningkat. Tujuan usaha peternak semi komersil untuk menambah pendapatan keluarga dan konsumsi sendiri. Peternakan komersil dijalankan oleh peternak yang mempunyai kemampuan dalam segi modal, sarana produksi dan teknologi yang cukup modern. Tenaga kerja dibayar dan makanan ternak dibeli dari luar dalam jumlah yang besar, dari hal di atas, maka peternakan yang di farm Fapet Unja termasuk peternakan komersil karena menggunakan teknologi dan tenaga kerja yang dipekerjakan di kandang tersebut.klimatologis Indonesia beriklim tropis dan kurang cocok bagi perkembangan sapi perah yang berasal dari daerah sub tropis. Ketiga, pemasar susu yang terbesar adalah industri pengolahan susu dan hanya beberapa peternak yang mampu menciptakan pasar langsung ke konsumen. Keempat, kualitas sumberdaya manusia yang masih rendah (Sutawi dalam Ardia, 2000), oleh karena itu, sapi yang terdapat di kandang Fapet harus dimandikan dengan teratur dan disiram pada siang hari jika cuaca panas untuk menyediakan suhu yang sejuk untuk ternak
Performans sapi perah sangat dipengaruhi oleh manajemen yang digunakan pada peternakan tersebut, Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan sapi perah adalah penyediaan bibit, pemberian pakan, perkandangan, penanganan penyakit dan perkawinan, pemerahan dan penanganan pasca panen, penaganan limbah serta pemasaran dan distribusi, Sudono et al., (2003) Faktor-faktor tersebut bila ditinjau secara teknis meliputi : pemuliaan ternak (breeding) yaitu sifat-sifat genetis yang diturunkan ke generasi berikutnya, makanan ternak (hijauan dan makanan penguat), tatalaksana (manajemen), pemeliharaan termasuk juga penyakit dan pengobatannya ( Sutardi, 1981).
Setiap pakan yang diberikan pada sapi perah mempunyai fungsi masing-masing sistem pemberian hijauan tersebut akan meningkatkan kualitas proporsi antara produk asam lemak konjugasi dan asam lemak omega 3 serta meningkatkan kandungan lemak pada daging (Valvo et al., 2005).
Dari hasil praktikum yang dilakukan selama 1 minggu, diperoleh bobot badan seperti dibawah ini:

Bobot badan awal
Perlakuan
nama sapi
bobot badan awal
Perlakuan I
odel
257.85 kg
Perlakuan II
pito
268.2 kg
Perlakuan III
pinot
494.55 kg
Perlakuan IV
pimo
108.9 kg
perlakuan V
agnes
390.6 kg
perlakuan VI
wara
397.35 kg












Table pemberian pakan
Hari
waktu
sisa pakan /kg
pakan yang diberikan /kg
pakan yang dikonsumsi /kg
1
pagi
10
40
30

sore
11
40
29
2
pagi
11
40
29

sore
8
40
32
3
pagi
10
40
30

sore
11
40
29
4
pagi
12
40
28

sore
11
40
29

5
pagi
13
40
27

sore
10
40
30
6
pagi
12
40
28

sore
11
40
29
7
pagi
10
40
30

sore
10
40
30








Table bobot badan akhir
nama sapi
bobot akhir /kg
Odel
288.45
Pito
295.2
Pinot
355.5
Pimo
161.55
Agnes
373.95
Wara
439.65



PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa manajemen yang digunakan dalam suatu peternakan sangat berpengaruh pada performans sapi perah,

Saran
Dalam pelaksanaan praktikum diharapkan dilaksanakan dengan baik dan mengutamakan tujuan praktikum,


DAFTAR PUSTAKA
Arif Hidayat, Pepen Effendi, Yadi Patyadi, Asep Ali Fuad, Kimiaki Taguchi dan Teruo Sugiwaka. 2005. Buku Petunjuk Praktis untuk Peternak Sapi Perah. Kerjasama Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat dengan Japan International Cooperation Agency. Halaman 12,13, dan 32. http://www.goole.com/Dinas Peternakan Jawa Barat diakses 07 Mei 2011.

Bearden. H.J. dan J.W. Fuquay. 1980. Applied Animal Reproduction. Reston Publish. Co. Inc. A Prentice-Hall Co. Reston. Virginia.

Company. USA. http://google.com/Animal Science diakses 01 juni 2011.

Gillespie, J. R. 1998. Animal Science. An international Thomson Publishing

Hurley WL. 2000. Mammary tissue organization. Lactation Biology. ANSCI 308.
http://classes aces.uiuc.edu/Ansci 308/. [15 – 08 -2006].

Pamungkas. D., Mariyono dan A. Musofie. 1994. Eksistensi sapi perah dara dalam usaha peternakan sapi perah rakyat (studi kasus di kecamatan Tutur kabupaten Pasuruan). Proc. Pertemuan lImiahPengolahan dan Komunikasi Hasil-hasil Penelitian Sapi Perah. Sub Balitnak Grati.

Royama, Sam. 2005. Dunia Ternak. Akhmad’s Site. Indonesia. http://www.google.com/Akhmad’s Site diakses 21 Juni 14.00 Siregar, S, B. 1995. Sapi Perah: Jenis, Tekhnik Pemeliharaan, dan Analisis Usaha. Cetakan IV. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sofyan, A dan A. Febrisiantosa. 2007. Tingkatkan Kualitas Pakan Ternak dengan Silase Komplit. Universitas Islam Lamongan. Lamongan. http://google.com/Universitas Islam Lamongan diakses 25 April 2008 21.00 WIB 
Poskan Komentar